DICKY TJ

" SELAMAT DATANG DI BLOG DICKY TJ "

Minggu, 22 Desember 2013

Pendekatan Ilmiah (Scientific Aproach)

       Pendekatan ilmiah (scientific aproach) merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada pembelajaran aktif dan interaktif. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang digunakan di dalam kurikulum 2013, yang meliputi aktivitas mengamati, menanya, menalar, mencoba dan membentuk jejaring. Juga di dalam PERMENDIKBUD no 65 tahun 2013 tentang standar proses bahwa untuk memperkuat pendekatan ilmiah perlu menggunakan pembelajaran berbasis penelitian atau penyingkapan. Dalam prosesnya pendekatan ilmiah dilihat dari segi materi pembelajaran yaitu berbasis fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda atau dongeng semata. Sehingga memberikan suatu pemahaman dan pengalaman yang akan menjadi pembelajaran yang berarti, sehingga membentuk  peserta didik yang berkualitas. Maka dari itu pendekatan ilmiah yang terjadi pada saat ini diharapkan mampu memberikan masukan dan perubahan positif kepada peserta didik dalam mendapatkan keilmuan dan pengalamannya.

Senin, 30 April 2012

Aplikasi Penjasorkes pada Perkembangan Sekarang


Melihat Perkembangan Kurikulum Pada Sekarang Ini Aplikasi Pendidikan Jasmani Dan Olahraga di Sekolah sudah semakin sulit untuk dipisahkan, karena aktivitas penjas sekarang ini acuannya sudah mulai melihat akan prestasi sebagai tujuan paling penting. Namun kita melupakan konsep dari masing-masing aktivitas tersebut, juga arah dan tujuannya yang ingin dicapai. Pendidikan Jasmani pada hakikatnya suatu proses pembentukan pribadi secara keseluruhan baik aspek fisik, intelektual, mental, dan emosional melalui aktivitas fisik. Sehingga pada prakteknya Pendidikan jasmani ini memberikan suatu wadah dalam memberikan perlakuan kepada peserta didik agar bisa mengembangkan kemampuan motorik, kebugaran jasmani, menumbuhkan perilaku aktif dan sportif serta mampu mengisi waktu-waktu luang dengan aktivitas positif. Sedangkan olahraga yang kita ketahui adalah suatu aktivitas fisik yang terorganisir dan bersifat kompetitif dan mempunyai aturan-aturan tertentu yang sudah dibakukan. 

Kamis, 05 April 2012

Budi Utama

    Pendidikan merupakan bagian integral yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Setiap orang berhak untuk mendapatkan pendidikan mulai dari pendidikan sekolah dasar, sekolah menengah dan sekolah lanjutan. Dalam setiap jenjang pendidikan memberikan semua pengalaman yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan, karakteristik peserta didik, dan situasi kondisi lingkungan, sosial dan budaya. Dalam hal ini perlu seseorang yang mampu memberikan suatu wadah dan pengantar kepada peserta didik dalam pencapaian tujuan pendidikan. Guru dalam hal ini mempunyai tanggung jawab untuk membantu peserta didik dalam mencapai dan mendapatkan keinginan dan cita-citanya. Namun yang menjadi permasalahan adalah guru yang mempunyai kompetensi secara keseluruhan di Indonesia ini sangat minim, yang sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 16 Tahun 2007 Tanggal 4 Mei 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru yaitu kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.

Jumat, 30 Maret 2012

Belajar Seumur Hidup

Manusia merupakan makhluk ciptaan Alloh swt. yang paling sempurna di muka bumi ini. Karena manusia memiliki akal dan pikiran yang terus berkembang, sehingga mampu menjaga dan meningkatkan kelestarian alam di bumi ini. Manusia mulai belajar sejak lahir yang ditandai dengan adanya tangisan, melihat, mendengarkan, dan memegang.

Sabtu, 24 Maret 2012

Sekolah Berkualitas

Faktor-faktor Sekolah Berkualitas

Mutu pendidikan khususnya di tingkat satuan pendidikan sangat ditentukan oleh faktor-faktor dinamis yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Menurut pendapat Diana Townsend dan Butterworth (1992) yang dipaparkan oleh Prof. Dr. H. Moh. Surya, M.Pd., dalam sebuah seminar nasional mengatakan bahwa ada sepuluh faktor dinamis sebagai penentu terwujudnya mutu sekolah yang berkualitas, sehingga yang pada akhirnya mampu membangun karakter peserta didik dan lulusannya. Kesepuluh faktor tersebut diantaranya adalah: